31 Januari 2010

Pembelajaran Kontekstual

Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan memgetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Proses pengajaran akan lebih hidup dan menjalin kerjasama diantara siswa, maka proses pembelajaran dengan paradigma lama harus diubah dengan paradigma baru yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam berpikir, arah pembelajaran yang lebih kompleks tidak hanya satu arah sehingga proses belajar mengajar akan dapat meningkatkan kerjasama diantara siswa dengan guru, siswa dengan siswa maka dengan demikian siswa yang kurang akan dibantu oleh siswa yang lebih pintar sehingga proses pembelajaran lebih hidup dan hasilnya lebih baik.
Kegiatan pendidikan adalah suatu proses sosial yang tidak dapat terjadi tanpa interaksi antar pribadi. Belajar adalah suatu proses pribadi, tetapi juga proses sosial yang terjadi ketika masing masing orang berhubungan dengan yang lain dan membangun pengertian dan pengetahuan bersama.

Pengertian Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Tugas guru dalam kelas kontekstual ini adalah membantu siswa mencapai tujuannya, maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu yang baru bagi anggota kelas (siswa).
Hal itu perlu dilakukan untuk tujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya. Karena Pembelajaran Kontekstual bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa melalui peningkatan pemahaman makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari sebagai individu, anggota keluarga, anggota masyarakat dan anggota bangsa. Untuk mencapai tujuan tersebut tentunya diperlukan guru-guru yang berwawasan CTL, materi pembelajaran yang bermakna bagi siswa, strategi, metode dan teknik belajar mengajar yang mampu mengaktifkan semangat belajar siswa, media pendidikan yang bernuansa CTL, suasana dan iklim sekolah yang juga bernuansa CTL sehingga situasi kehidupan sekolah dapat seperti kehidupan nyata di lingkungan siswa.

Beberapa pendapat tentang pembelajaran konstektual:

1. Nurhadi (2002, h. 5) mengemukakan, “Pembelajaran konstektual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, permodelan dan penilaian sebenarnya”.

2. Erman Suherman (2003, h. 3) mengemukakan, “Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Leaning, CTL) adalah pembelajaran yang dimulai dengan mengambil (mensimulasikan, menceritakan, berdialog, atau tanya jawab) kejadian pada dunia nyata kehidupan sehari-hari yang dialami siswa kemudian diangkat ke dalam konsep yang dibahas”.

3. Joshua (2003, h. 2) mengemukakan : “Pembelajaran konstektual adalah suatu konsep tentang pembelajaran yang membantu guru-guru untuk menghubungkan isi bahan ajar dengan situasi-situasi dunia nyata serta penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan pekerja serta terlibat aktif dalam kegiatan belajar yang dituntut dalam pelajaran”.

Pendekatan kontekstual dalam buku Pendekatan Kontekstual yang diterbitkan oleh DEPDIKNAS tahun 2002, Pembelajaran Kontekstual (contextual Teching and Leaning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan konstektual memberikan penekanan pada penggunaan berpikir tingkat tinggi, transfer pengetahuan, permodelan, informasi dan data dari berbagai sumber. Dalam kaitan dengan evaluasi, pembelajaran dengan konstektual lebih menekankan pada authentik assesmen yang diperoleh dari berbagai kegiatan.


Hakekat Pembelajaran Kontekstual
Cara untuk mencapai kompetensi sebagaimana yang disuratkan dalam uraian Kurikulum dan Hasil Belajar pada dokumen KBK sebaiknya direncanakan, dipilih, serta dipersiapkan baik-baik agar kegiatan bermakna, bermanfaat, dan menarik bagi siswa. Berbagai variasi teknik mengajar dan belajar dipilih dan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, materi, serta kebutuhan pembelajar.
Bahan-bahan dan variasi teknik belajar/mengajar tersebut seharusnya bermanfaat bagi siswa dan bermakna dalam arti dapat menambah pengetahuan baru berdasarkan pengetahuan awal siswa (prior knowledge) melalui pengalaman-pengalaman belajar mereka (constructivism). Hal yang perlu diperhatikan adalah guru dapat membawa siswa ke dalam situasi belajar yang dapat menghubungkan apa saja yang diperoleh di sekolah/kelas dengan apa yang ada di kehidupan nyata mereka.
Dengan demikian, siswa akan merasakan dan menyadari manfaat belajar dengan pergi ke sekolah sebab mereka dapat membuktikan sendiri dan menemukan jawaban dalam menghadapi kehidupan di luar kelas yang penuh dengan masalah. Mereka dapat saling membantu dan berbagi pengalaman dalam kelompok masyarakat belajar (learning community), sehingga timbul keingintahuan (inquiry) dengan tidak melupakan untuk melakukan refleksi diri.

Pembelajaran secara kontekstual berhubungan dengan:
1. Fenomena kehidupan sosial masyarakat, bahasa, lingkungan hidup, harapan dan cita yang tumbuh,
2. Fenomena dunia pengalaman dan pengetahuan murid, dan
3. Kelas sebagai fenomena sosial. Kontekstualitas merupakan fenomena yang bersifat alamiah, tumbuh dan terus berkembang, serta beragam karena berkaitan dengan fenomena kehidupan sosial masyarakat.

Dalam kaitannya dengan ini, maka pembelajaran pada dasarnya merupakan aktivitas mengaktifkan, menyentuhkan, mempertautkan; menumbuhkan, mengembangkan, dan membentuk pemahaman melalui penciptaan kegiatan, pembangkitan penghayatan, internalisasi, proses penemuan jawaban pertanyaan, dan rekonstruksi pemahaman melalui refleksi yang berlangsung secara dinamis.
Sementara itu, belajar pada dasarnya merupakan proses menyadari sesuatu, memahami permasalahan, proses adaptasi dan organisasi, proses asimilasi dan akomodasi, proses menghayati dan memikirkan, proses mengalami dan merefleksikan,dan proses membuat komposisi dan membuka ulang secara terbuka dan dinamis. Itulah sebabnya landasan CTL adalah konsep konstruktivisme.

Komponen Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran, yaitu: konstruktivisme (constractivism), menemukan (inquiri), bertanya (questioning), masyarakat belajar (leaning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflekction), dan penilaian yang sebenarnya (autentic assesment). Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual apabila menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam proses pembelajarannya.

Berikut ini adalah uraian mengenai ketujuh komponen utama dalam pembelajaran kontekstual yang terdapat pada Contextuan Teaching And Leaning (Depdiknas, 2002, h. 10 ) sebagai berikut :

1. Kontrukstivisme (Constractivism)

Kontrukstivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual. Maksud konstruktivisme disini adalah pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak secara mendadak. Dalam hal ini, manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalan nyata.

2. Menemukan (Inquiri)
Menemukan merupakan kegiatan inti dari proses pembelajaran kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Dalam hal ini tugas guru yang harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya.

3. Bertanya (Questioning)
Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Dalam proses pembelajaran bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis penemuan (inquiri), yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diteliti dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui.

4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep masyarakat belajar ini menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil pembelajaran diperoleh dari berbagi antar teman, antar kelompok dan antar yang tahu dengan yang tidak tahu. Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah, seseorang yang terlibat dalam masyarakat belajar akan memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. Oleh karena itu, dalam kelas kontekstual guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar.

5. Pemodelan (Modeling)
Pemodelan maksudnya adalah bahwa dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu harus ada model yang ditiru. Pemodelan akan lebih mengefektifkan pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual untuk ditiru, diadaptasi, atau dimodifikasi. Dengan adanya suatu model untuk dijadikan contoh biasnya akan lebih dipahami atau bahkan bisa menimbulkan ide baru. Salah satu contohnya pemodelan dalam pembelajaran misalnya mempelajari contoh penyelesaian soal, penggunaan alat peraga, cara menemukan kata kunci dalam suatu baca, atau dalam membuat skema konsep. Pemodelan ini tidak selalu oleh guru, bisa oleh siswa atau media yang lainnya.

6. Refleksi (Feflection)
Refleksi adalah cara berpikir apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Refleksi adalah berpikir kembali tentang materi yang baru dipelajari, merenungkan lagi aktivitas yang telah dilakukan atau mengevaluasi kembali bagaimana belajar yang telah dilakukan. Refleksi berguna untuk mengevaluasi diri, koreksi, perbaikan, atau peningkatan diri. Membuat rangkuman, meneliti, dan memperbaiki kegagalan, mencari alternatif lain cara belajar (learning how to learn) dan membuat jurnal pembelajaran adalah contoh refleksi.

7. Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assesment)
Assesmen otentik adalah penilaian yang dilakukan secara komprehensif berkenaan dengan seluruh aktifitas pembelajaran yang meliputi proses dan produk belajar sehingga seluruh usaha siswa yang telah dilakukan mendapat penghargaan. Penilaian otentik seharusnya dilakukan dari berbagi aspek dan metode sehingga menjadi obyektif. Misalnya membuat catatan harian melalui observasi untuk menilai aktivitas dan motivasi, wawancara atau angket untuk menilai asfek afektif dan tes untuk menilai tingkat penguasaan siswa terhadap materi bahan ajar.

Dari ketujuh komponen tersebut, pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang berlandaskan pada dunia kehidupan nyata (real world), berpikir tingkat tinggi, aktivitas siswa, aplikatif, berbasis masalah nyata, penilaian komprehensif dan pembentukan mausia yang memiliki akal sehat.
Keberhasilan belajar siswa juga dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal siswa. Faktor internal merupakan kondisi dalam proses belajar yang berasal dari dalam diri siswa sehingga terjadi perubahan tingkah laku. Faktor internal ini antara lain kecerdasan, bakat, keterampilan/kecakapan, minat, motivasi, kondisi fisik dan mental.
Faktor eksternal yaitu seluruh kondisi di luar individu siswa yang langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi belajarnya. Faktor eksternal ini di antaranya lingkungan sekolah, keluarga, teman sepermainan dan masyarakat secara luas. Pendeknya aspek sosio-ekonomis, sosio-kultural dan keadaan masyarakat sangat berpengaruh dalam belajar seorang siswa.

Teori Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.

Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya :

1. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
2. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
3. Ciptakan masyarakat belajar.
4. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
5. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
6. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara

Salah satu strategi yang memenuhi prinsip pembelajaran berbasis kompetensi siswa melalui pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) atau sering disingkat model CTL. Secara umum CTL dimaknai sebagai suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan isi materi pelajaran dengan keadaan dunia nyata. Pembelajaran ini memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dan penerapannya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, warga masyarakat dan nantinya sebagai tenaga kerja (US Department of Education and the National School-to-work Office, 2001).
Proses belajar akan sangat efektif bila pengetahuan baru diberikan berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya. Pengetahuan yang diberikan hendaknya ada hubungan yang erat dengan pengalaman nyata siswa sesungguhnya. Katz (1981) menyatakan bahwa suatu program pembelajaran bukanlah sekadar suatu kumpulan mata pelajaran, namun lebih dari itu. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun program pembelajaran antara lain peran guru, hakikat pengajaran dan pembelajaran dan misi sekolah dalam masyarakat.
Melalui pendekatan ini diharapkan pembelajaran mudah dipahami siswa. Isi pelajaran tidak di awang-awang dan mempermudah siswa menghayati makna pembelajaran secara mendalam. Selama ini pembelajaran hanya teori yang muluk-muluk, sementara siswa tidak mudheng, akibatnya siswa mudah lupa dan pembelajaran membosankan anak.
Kata kunci dalam pembelajaran ini antara lain real world Learning, mengutamakan pengalaman nyata, berpikir tingkat tinggi, berpusat pada siswa. Siswa aktif, kritis dan kreatif, pengetahuan bermakna dalam kehidupan, dekat dengan kehidupan nyata. Serta adanya perubahan tingkah laku, siswa praktik bukan menghafal dan siswa tertantang untuk memecahkan masalah.
Strategi pembelajaran yang berasosiasi dengan pendekatan CTL antara lain Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), pendekatan proses, life skills education, authentic instruction, inquiry-based learning, problem based learning, cooperative learning dan service learning.
Tujuan dari penerapan dan pendekatan pembelajaran konstektual adalah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa melalui peningkatan pemahaman makna materi pelajaran yang dipelajari dengan mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari sebagai individual, anggota keluarga, anggota masyarakat dan anggota bangsa.

Untuk mencapai tujuan tersebut, sejumlah hasil yang diharapkan dalam penerapan pendekatan pembelajaran konstektual, diantaranya adalah :

1. Guru yang berwawasan.
2. Materi dalam pembelajaran.
3. Strategi metode dan teknik belajar mengajar.
4. Media pendidikan
5. Fasilitas
6. Proses belajar mengajar
7. Penilaian
8. Suasana.

Kesimpulan
Pembelajaran konstektual merupakan pendekatan belajar yang mendekatkan materi yang dipelajari oleh siswa dengan konteks kehidupan sehari-hari siswa. Jika dilaksanakan dengan baik, pembelajaran konstektual dapat meningkatkan makna pembelajaran ini pada gilirannya menimbulkan hasil belajar siswa, baik hasil belajar yang berupa kemampuan dasar maupun kemampuan fungsional. Berdasarkan komponen-komponen dan teori yang sesuai dengan sifat pembelajaran kontekstual, maka pendekatan pembelajaran konstektual memerlukan guru yang gemar mempelajari konteks untuk dikaitkan dengan materi pelajaran yang diajarkan.

Saran
Dalam pembelajaran konstekstual diperlukan guru yang berwawasan luas yang dapat mengaitkan mata pelajaran dengan kehidupan sehari-hari serta materi pembelajaran dikaitkan dengan konteks kehidupan siswa. Strategi guru dalam proses pembelajaran kontekstual sangat menetukan keberhasilan siswanya. Guru melakukan perubahan kebiasaan dalam proses belajar mengajar, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga penilaian hasil belajarnya. Sebagai calon pendidik (guru) pembelajaran kontekstual ini sangat penting karena dapat membantu siswa untuk lebih mudah menerima materi pelajaran yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

jangan lupa komentar, kritik, atau sarannya yooo... thnx :)

13 Februari 2009

Sasuke Uchiha: The Avenger


siapa sich yang gak tau komik NARUTO sekarang nich???
tu orang perlu dibelasah kale yac. secara, NARUTO sekarang lagi booming masa dia kagak tau. Naruto adalah komik jepang atau manga yang sekarang ini lagi digemari oleh orang2 khususnya para remaja yang hobi membaca komik. judul naruto sendiri diambil dari karakter fiktif utama komik itu sendiri,
NARUTO UZUMAKI. naruto merupakan salah seorang ninja yang suka berbuat jahil di desanya, Konohagakure. setelah lulus dari ujian akademi dan dinyatakan sebagai ninja genin, naruto bergabung dengan TEAM 7 yang diisi oleh SAKURA HARUNO DAN SASUKE UCHIHA yang dipimpin oleh ninja jonin elite KAKASHI HATAKE.
secara khusus, saya lebih memfavoritkan Sasuke Uchiha. karena apa ya, mungkin karena keren aja kali yach. sasuke memiliki masa lalu yang buruk, dimana seluruh keluarganya (klan uchiha) dibantai habis oleh kakak kandungnya sendiri ITACHI UCHIHA. itachi tidak membunuh sasuke karena dia berharap sasuke akan datang untuk membunuhnya. dibalik itu semua, itachi memiliki tujuan yang lain yaitu ingin menyempurnakan mata mangekyoushi sharingan miliknya dengan mengambil mata sharingan milik sasuke. namun tujuan itu tidak bisa dicapainya karena sasuke berhasil mengalahkan itachi dalam pertarungan yang sangat sengit. sebelum mati, itachi tersenyum kepada sasuke, pertarungan itu disaksikan langsung oleh ZETSU (salah satu anggota akatsuki). setelah pertarungan itu sasuke pingsan disebelah mayat itachi, kemudian tubuhnya diangkat oleh tobi yang tidak lain adalah MADARA UCHIHA dan ketua akatsuki ke suatu tempat. setelah sasuke sadar dari pingsannya, tobi menceritakan kenapa itachi membantai seluruh anggota klannya. certita tersebut menarik sasuke untuk bergabung dengan akatsuki yang tersisa 4 orang, antara lain madara uchiha, pein, konan dan zetsu. tugas pertama sasuke sebagai anggota akatsuki adalah membawa jinchuriki berekor 8 di desa kumogakure, misi itu sukses dan sasuke menggunakan mata mangekyoushi sharingan yang diberikan itachi sebelum kematiannya.
Sasuke Uchiha (うちはサスケ Uchiha Sasuke?) adalah seorang karakter fiktif dari komik dan anime Naruto. Nama depan Sasuke, konon berasal dari nama seorang ninja legendaris, Sarutobi Sasuke. Sedangkan nama belakangnya, "Uchiha" dibaca sebagai "uchiwa", atau "kipas kertas" (kipas yang terbuat dari kertas). Pada zaman Jepang Kuno, uchiwa seringkali dipakai dalam upacara kerajaan, sebagai souvenir, atau digunakan untuk melindungi prajurit dari serangan anak panah. Namun menurut filosofi dalam komik Naruto, "uchiwa" adalah sebuah kipas yang mampu mengobarkan bara menjadi api, yang menggambarkan kemampuan klan Uchiha yang mampu menggemblang keturunan mereka menjadi seorang ninja yang hebat.
Dalam seri Naruto, Sasuke adalah seorang ninja jenius dari sebuah klan terkemuka di Konoha, Klan Uchiha. Klan Uchiha dikenal dengan garis keturunan khususnya yaitu Sharingan, begitu juga dengan kemampuan mereka menguasai elemen api. Klan ini juga memberikan kontribusi besar sebagai pasukan keamanan Konoha. Seperti kebanyakan anggota klan Uchiha, Cakra Sasuke lebih mengarah ke elemen api, namun dia juga dapat memanipulasi elemen listrik, seperti yang ditunjukkannya saat melakukan jurus Chidori. Sasuke juga berhasil menguasai jutsu Amaterasu yang dia dapat dari kakaknya, Itachi Uchiha.
Terlalu banyak basa basi yac, langsung aja saya tampilkan beberapa gambar2 sasuke.






jangan lupa komentar, kritik, atau sarannya yooo... thnx :)

12 Februari 2009

WISE WORDS OF NARUTO COMIC

dalam posting saya yang pertama ini, saya menulis tentang kata2 indah atau sejenis kata2 mutiara gitu deh, bisa dibilang kata2 bijak juga yang saya catat adri beberapa komik dan film.

banyak yang bilang kalo komik itu hanya kumpulan cerita2 yg kekanak-kanakan. itu menurut pandangan orang yang gak suka terhadap komik, tapi, bagi orang yang hobi atau gemar membaca komik, mereka tidak hanya membaca ceritanya saja. Mereka begitu mendalami dan menghayati kandungan atau inti dari cerita tersebut. Dan kemudian menyimpulkan sendiri hal posotif yang menarik. Ternyata gak hanya memberi cerita2 yg seru dan keren2, dalam komik terselip kata2 bijak yang bahkan gak disadari oleh pembacanya.

saya sebagai orang yang gemar membaca komik khususnya NARUTO, mencatat beberapa kalimat yang saya temui dari beberapa komik yang saya baca. selain itu, saya juga mencatat beberapa kalimat dari beberapa film yang saya tonton.

MELINDUNGI ORANG YANG BERHARGA BAGI KALIAN ADALAH HAL YANG TIDAK BOLEH DILUPAKAN
> 3rd HOKAGE SARUTOBI
> NARUTO
> JILID 11
> HALAMAN 78

KITA BUKAN ORANG YANG BERUNTUNG, TAPI BUKAN YANG TERBURUK
> KAKASHI HATAKE
> NARUTO
> JILID 20
> HALAMAN 111

TAKDIR BUKAN SESUATU YANG BISA DIPUTUSKAN OLEH SIAPAPUN
> NEJI HYUUGA
> NARUTO
> JILID 22
> HALAMAN 147

DI DUNIA INI, SEMUANYA TIDAK SELALU BERJALAN SESUAI HARAPAN KITA
> OROCHIMARU
> NARUTO
> JILID 23
> HALAMAN 41

MANUSIA TAKKAN BISA MENANG DARI RASA KESEPIAN
> GAARA
> NARUTO
> JILID 24
> HALAMAN 182

ORANG YANG TIDAK MENGHARGAI TEMANNYA, LEBIH RENDAH DARI SAMPAH
> OBITO UCHIHA
> NARUTO
> JILID 27
> HALAMAN 123 (EDISI KHUSUS KAKASHI GAIDEN)

KEINDAHAN ABADI ADALAH SENI
> SASORI
> NARUTO
> JILID 30
> HALAMAN 31

HIDUP DENGAN KEPERCAYAAN BAHWA COBAAN ITU BERGUNA UNTUK MENEMPA DIRI SENDIRI
> JIRAIYA
> NARUTO
> JILID 42
> HALAMAN 46

SEMUA ORANG HIDUP TERIKAT DAN BERGANTUNG PADA PENGETAHUAN ATAU PERSEPSINYA SENDIRI
> ITACHI UCHIHA
> NARUTO
> JILID 42
> HALAMAN 102

KALAU TERUS RAGU, TAKKAN MENGHASILKAN APA-APA
> SHIKAMARU NAARA
> NARUTO
> JILID 44
> HALAMAN 73

SAAT SESEORANG TAHU KASIH SAYANG, DIA JUGA MENANGGUNG RESIKO KEBENCIAN
> SASUKE UCHIHA
> NARUTO
> JILID 45
> HALAMAN 74

YANG TIDAK MENGENAL PENDERITAAN TAKKAN TAHU ARTI KEDAMAIAN SEJATI
> TENDO PAIN
> NARUTO
> JILID 46
> HALAMAN 115

SEMUA HAL SELALU TERJADI TIDAk TERDUGA, DAN ALASANNYA BARU KITA SADARI BELAKANGAN
> TENDO PAIN
> NARUTO
> JILID 47
> HALAMAN 58

RASA SAYANG ITULAH YANG AKAN MENCIPTAKAN KORBAN, SERTA KEBENCIAN
> TENDO PAIN
> NARUTO
> JILID 47
> HALAMAN 92

SELAMA ADA CINTA, KEBENCIAN AKAN TERCIPTA
> MINATO NAMIKAZE ( YONDAIME = HOKAGE 4th )
> NARUTO
> JILID 47
> HALAMAN 143

ORANG LAIN TAKKAN BISA MENGERTI APA YANG KITA RASAKAN TANPA MENGALAMI PENDERITAAN YANG SAMA
> TENDO PAIN
> NARUTO
> JILID 47
> HALAMAN 159

gimana??? keren2 en penuh makna kan kata2nya. bisa dijadikan pedoman hidup juga loh. selain dari NARUTO, saya juga punya wisewords laennya dari film, novel ataupun dari manga yang lain.

TAK ADA ALASAN YANG LOGIS UNTUK SALING MENOLONG
> SHINICHI KUDO
> DETECTIVE CONAN
> JILID 35
> HALAMAN 62

MANUSIA HARUS MEMILIKI KEKUATAN UNTUK MENGUBAH MASA DEPAN
> L LAWLIET
> DEATH NOTE

HIDUP ITU SEDERHANA, TENTUKAN PILIHANMU DAN JANGAN MENYESAL
> HAHN
> THE FAST AND THE FURIOUS: TOKYO DRIFT

PELUANG MEMIHAK PIKIRAN YANG SIAP
> TRAVIS DANE
> UNDER SIEGE

ORANG MENILAI DARI APA YANG MEREKA LIHAT, BUKAN DARI SIAPA KAMI ( APA YANG MEREKA KETAHUI )
> BARTLEBY GAINES (JUSTIN LONG)
> ACCEPTED

KITA COBA YANG TAK MUNGKIN, KARENA YANG MUNGKIN TIDAK BERHASIL
> SEAN PORTER
> DWAYNE “THE ROCK” JOHNSON
> GRIDIRON GANG

DON’T BE NICE, CAUSE THE WORLD ISN’T NICE
> HOW TO MAKE A MONSTER

CINTA BISA MELUKAI, ENTAH KARENA KEKURANGAN KASIH SAYANG ATAU TERLALU BANYAK KASIH SAYANG
> TIMERI N MURARI
> TAJ

DONT EVER THOUGHT YOU CANT CHANGE THE WORLD, BUT U HAD THOUGHT YOU CAN CHANGE YOURSELF BE BETTER THAN YESTERDAY

KITA MEMANG TIDAK BISA MERUBAH TAKDIR YANG TELAH DITETAPKAN, TAPI KITA BISA MEMBUAT TAKDIR KITA MENJADI LEBIH BAIK

ORANG BELAJAR SEDIKIT DARI KESUKSESAN,TAPI BELAJAR BANYAK DARI KEGAGALAN

TO BE SILENT IS THE BIGGEST ART IN A CONVERSATION (SIKAP DIAM ADALAH SENI YANG TERHEBAT DALAM SUATU PEMBICARAAN )

TIDAK SEMUA PERBUATAN BAIK YANG KAMU LAKUKAN DAPAT DITERIMA BAIK PULA OLEH ORANG LAIN

jangan lupa komentar, kritik, atau sarannya yooo... thnx :)