17 Desember 2010

Anti NetCut, Penangkal NetCut

Setiap penyakit pasti ada obatnya bukan? Begitu juga dengan NetCut. Untuk mengantisipasi tindak kejahatan dalam dunia per’Network’an, maka diciptakan sebuah software untuk menangkal NetCut. Software tersebut bernama Anti NetCut.
Dengan menggunakan Anti NetCut, bisa dijamin Anda akan terhindar dari orang yang iseng yang menggunakan NetCut untuk mengusai bandwidth atau sekedar ingin mengerjai user lainnya. Bahkan kita bisa mengetahui siapa yang sedang menggunakan/menjalankan netcut dalam jaringan tersebut.

1. Anda bisa download Anti NetCut DISINI.
2. Instal Anti NetCut, kemudian ikuti langkah-langkahnya.
3. Jika telah selesai di instal, restart pc anda.
4. Kemudian jalankan Program Anti NetCut setiap anda terkoneksi dengan sebuah jaringan HotSpot, Wifi, and LAN untuk menghindari pengguna NetCut.

Selamat mencoba untuk kalian semua, semoga lancar-lancar aja ya browsingnya.

Network Cut NetCut

Netcut merupakan singkatan dari Network Cut. Bisa kita artikan kalau Network itu adalah jaringan, sementara cut adalah menggunting. Kita ambil kesimpulan bahwa Netcut adalah atau memotong atau memutuskan sebuah jaringan internet.
Kecepatan shared connection pada dasarnya ditentukan banyaknya user yang terkoneksi ataupun settingan internet protokol. Jika menggunakan settingan murni, kecepatan akses akan dibagi berdasarkan banyaknya user yang menggunakannya.
Contohnya: Bila kecepatan koneksi = 500 Kbps, kemudian digunakan oleh 5 user, maka kecepatan masing-masing user adalah 100 Kbps, kecuali diberi limit connection pada user lain. Jadi semakin banyak user terkoneksi, semakin kecil pula koneksi yang didapat.
Netcut adalah software yang berfungsi untuk mengontrol bandwidth di sebuah jaringan hotspot. Dengan software ini juga, seseorang bisa memutus dan membuka akses user lainnya yang ada dalam satu jaringan dengannya.

1. Anda bisa download NetCut DISINI.
2. Instal NetCut, kemudian ikuti langkah-langkahnya.
3. Jika telah selesai di instal, restart pc anda.
4. Kemudian jalankan Program NetCut, akan tampak IP yang sedang aktif.
5. Plih IP yang akan anda jadikan korban, selanjutnya klik Cut Off

Maka jatah bandwidth dari IP tadi akan beralih kepada IP anda. Gampang bukan cara penggunaannya. Software ini cocok untuk mengantisipasi jika kita sedang download-download file agar tidak terputus ditengah jalan. Kan capek tuh udah nungguin downloadan lama-lama eh jaringan putus tiba-tiba. Gunakanlah software ini dengan sebaik-baiknya, bukan untuk memutuskan jaringan orang lain untuk keegoisan diri sendiri. Indahnya berbagi bersama.

12 Desember 2010

Belajar Harus Dengan Disiplin

Disiplin adalah kunci sukses. Sebab dengan disiplin, orang menjadi berkeyakinan bahwa disiplin membawa manfaat yang dibuktikan dengan tindakan disiplinnya sendiri. Setelah bertindak dengan disiplin seseorang baru akan dapat merasakan bahwa disiplin itu pahit, tetapi buahnya manis. Sebab kesanggupan berbuat disiplinlah takaran keimanan seseorang. Dengan disiplin yang kuat, akan tumbuh iman yang kuat pula, dan orang yang beriman adaah orang yang pada dirinya akan tumbuh sifat yang teguh dalam berprinsip, tekun dalam usaha, pantang mundur dalam kebenaran, rela mati untuk kebenaran. Karena itulah maka betapa besarnya pengaruh disiplin terhadap sukses studi di perguruan tinggi. Bukan hanya akan sukses sekedar membawa gelar sarjana, melainkan dapat mengisi gelar sarjanyan dengan perbuatan-perbuatan kesarjanaan. Baik dalam sikap mental, dalam moral maupun dalam sikap sosial dan sikap keilmuannya.
Disiplin adalah kunci kebahagiaan. Ketenangan hidup akan tercapai dengan kebiasaan disiplin. Bila seorang mahasiswa telah mebiasakan diri bekerja dengan rencana, ia sudah bermula dengan disiplin, ia tinggal melatih mematuhi rencananya sendiri. Ibarat ia telah mengatakan sesuatu janji, tanpa usaha untuk menetapi adalah perbuatan yang mudah sekali menjadi kebiasaan yang akan mudah menurunkan harga dirinya. Belajar seperti itu akan tehindar dari rasa mengantuk setiap berhadapan dengan dengan buku, tidak dapat mengkonsentrasikan perhatiannya kepada pelajaranya dan akan tidak selalu digoda oleh kondisi dimana belum saatnya belajar, karena belum/tidak ada tes atau ujian.
Untuk menegakkan disiplin tidak selamanya harus melibatkan orang lain, tetapi melibatkan diri sendiri juga sudah cukup, bahkan yang melibatkan diri sendiri secara penuhlah yang lebih penting. Sebab penegakkan disiplin karena melibatkan diri sendiri berarti disiplin yang timbul itu adalah kesadaran. Disiplin dapat melahirkan semangat menghargai waktu, bukan menyia-nyiakan waktu berlalu begitu saja dalam kehampaan.
Orang-orang yang berhasil dalam belajar dan berkarya disebabkan mereka selalu menempatkan disiplin di atas semua tindakan dan perbuatan.
:# :0

Belajar Dengan Rencana Dan Teratur

Yang dimaksud dengan rencana adalah perhitungan-perhitungan jangka pendek yang menyangkut tentang pembagian waktu, tenaga dan bahan yang akan dipelajari. Semuanya diperhitungkan untuk mendapatkan efisiensi dalam belajar. Rencana selama seminggu hari kuliah diatur secara garis besar seperti pada jadwal kuliah rencana harian.
Belajar dengan teratur merupakan pedoman mutlak yang tidak bisa diabaikan oleh seseorang yang menuntut ilmu di sekolah atau perguruan tinggi (universitas), betapa tidak, karena banyaknya bahan pelajaran yang harus dikuasai menuntut pembagian waktu yang sesuai dengan kedalaman dan pelajaran dituntut secara dini, tidak harus menunggu sampai menjelang ulangan, ujian, atau tes. Satu, dua, atau tiga hari sebelum ulangan baru belajar sangat tidak menguntungkan, sebab dalam kurun waktu yang singkat tersebut tidak mungkin dapat menguasai semuan bahan pelajran untuk semua mata pelajaran.
Belajar dengan teratur sama halnya belajar di sekolah atau mengikuti kuliah secara teratur, orang yang sering tidak masuk sekolah atau kuliah dapat dipastikan akan kurang mengerti bahan-bahan pelajaran tertentu.
Sejumlah buku terkadang ada uraian tertentu yang tidak dijelaskan secara mendalam, guru atau dosenlah yang menjembatani hal-hal yang belum dijelaskan di dalam buku tersebut. Penjelasan guru atau dosen haruslah dicatat dan catatan tersebut haruslah teratur dan rapi.
Penting untuk membiasakan diri dengan sikap teratur dalam segala hal yang menyangkut masalah keberhasilan belajar, percayalah pada diri sendiri bahwa dengan sikap teratur itu tidak akan mendatangkan kegagalan dalam belajar di sekolah atau di perguruan tinggi. Sikap yang terbiasa teratur adalah cerminan kepribadian yang teratur sebagai salah satu barometer dari kejernihan berpikir, kejernihan berpikir yang diperlukan selam menuntut ilmu itu harus dipertahankan.

Prinsip-Prinsip Belajar

Dengan mempelajari makna belajar lebih dalam, kita bisa menyusun beberapa prinsip-prinsip belajar sebagai berikut:
- Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan partisipasi aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional.
- Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki struktur, penyajian yang sederhana sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya.
- Belajar harus dapat menimbulkan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan instruksional.
- Belajar itu proses berlanjut maka harus bertahap menurut perkembangannya.
- Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi, dan discovery.
- Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksional yang harus dicapainya.
- Belajar memerlukan sarana yang cukup sehingga siswa dapat belajar dengan tenang.
- Belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkungannya.
- Belajar adalah proses hubungan antara pengertian yang satu dengan pengertian yang lain sehingga mendapatkan penegertian yang diharapkan, stimulus yang diberikan, dan respon yang diharapkan.
- Repetisi, dalam proses belajar perlu ulangan berkali-kali agar pengertian dan ketrampilan atau sikap itu mendalam pada siswa.

Belajar akan lebih berhasil apabila kita memiliki:
- Kesadaran atas tanggung jawab belajar,
- Cara belajar yang efisien,
- Syarat-syarat yang diperlukan.

Tanggung jawab belajar terletak pada diri anda.siapakah yang belajar dan siapa yang bertanggung jawab atas berhasil atau gagalnya kegiatan belajar itu? Maka jawabannya ialah, bahwa anda sendirilah yang belajar dan anda sendiri yang bertanggung jawab untuk melakukannya agar berhasil dan sebaliknya, anadaikata anda mengalami kegagalan maka akibatnya anda yang memikul. Kesuksesan itu sebagian besar terletak pada usaha kegiatan anda sendiri. Sudah barang tentu faktor kemauan, minat, ketekunan, tekad untuk sukses, cita-cita yang tinggi merupakan unsur-unsur mutlak yang bersifat mendukungusaha anda itu.
Selain belajar sendiri atau belajar di luar kampus, perlu pula belajar di dalam kelompok sebagai salah satu cara belajar yang efisien. Hal itu menunjukkan bahwakedua kegiatan belajar itu sama penting dan bermanfaat, sebab setiap individu adalah anggota kesatuan sosial dan satu kesatuan sosial tidak boleh menenggelamkan individu ke dalamnya.
Pembagian waktu yang sebaik-baiknya yagn dicantumkan di dalam program kerja yang tertib, yang dengan demikian berarti belajar berdisiplin, suatu sikap yang perlu dibina untuk menumbuhkan wibawa secara wajar dan berencana.

Agar bisa tertib diri dalam belajar sendiri harus dengan prinsip-prinsip antara lain:
- Belajar harus dengan rencana dan teratur.
- Belajar harus dengan disiplin diri.
- Belajar harus dengan minat/perhatian.
- Belajar harus dengan pengertian.
- Belajar harus diselingi dengan rekreasi sederhana yang bermanfaat.
- Belajar harus dengan tujuan yang jelas.

10 Desember 2010

Learning Strategies

Language aptitude and motivation constitute general factors that influence the rate and level of L2 achievement. But how does their influence operate? One possibility is that they affect the nature and the frequency with which individual learners use learning strategies.
Learning strategies are the particular approaches or techniques that learners employ to try to learn an L2. They can be behavioural (for example, repeating new words aloud to help you remember them) or they can be mental (for example, using the linguistic or situational context to infer the meaning of a new word). They are typically problem-oriented. That is, learners employ learning strategies when they are faced with some problem, such as how to remember a new word. Learners are generally aware of the strategies they use and, when asked, can explain what they did to try to learn something.
Different kinds of learning strategies have been identified. Cognitive strategies are those that are involved in the analysis, synthesis, or transformation of learning materials. An example is ‘recombination’, which involves constructing a meaningful sentence by recombining known elements of the L2 in a new way. Metacognitive strategies are those involved in planning, monitoring, and evaluating learning. An example is ‘selective attention’, where the learner makes a conscious decision to attend to particular aspects of the input. Social/affective strategies concern the ways in which learners choose to interact with other speakers. An example is ‘questioning for clarification’ (i.e asking for repetition, pharaphrase, or an example).
There have been various attempts to discover which strategies are important for L2 acquisition. One way is to investigate how ‘good language learners’ try to learn. This involves identifying learners who have been successful in learning an L2 and interviewing them to find out the strategies that worked for them. One of the main finding of such studies is that successful language learners pay attention to both form and meaning. Good language learners are also very active (i.e they use strategies for taking charge of their own learning), show awareness of the learning process and their own personal learning styles and, above all, are flexible and appropriate in their use of learning strategies. They seem to be especially adept at using metacognitive strategies.
Others studies have sought to relate learners’ reported use of different strategies to their L2 proficiency to try to find out which strategies are important for language development. Such studies have shown, not surprisingly, that successful learners use more strategies than unsuccessful learners. They have also shiwn that different strategies are related to different aspects of L2 learning. Thus, strategies that involve formal practice (for example, rehearsing a new word) contribute to the development of linguistic competence whereas strategies involving functional practice (for example, seeking out native speakers to talk to) aid the development of communicative skills. Successful learners may also call on different strategies at different stages of their development. However, there is the problem with how to interpret this research. Does strategy use result in learning or does learning increase learners’s ability, it is not clear.
An obvious question concerns how these learning strategies relate to the general kinds of psycholinguistic proccess discussed in chapter 6. What strategies are involved in noticing or noticing the gap, for example? Unfortunately, however, no attempt has yet been made to incorporate the various learning strategies that have been identified into a model of psycholinguistic processing. The approach to date has been simply to discribe strategies and quantify their use.
The study of learning strategies is of potential value to language teachers. If those strategies that are crucial for learning can be identified, it many prove possible to train sudents to use them. We will examine this idea in the broader context of a discussion of the role of instruction in L2 acquisition.

second language acquisition, 1997, ellis rod.

4 Desember 2010

Kick Andys Effect

Kick Andys Effect Saya baru saja membaca berbagai komentar yang masuk ke website www.kickandy.com Tak terasa mata saya berkaca-kaca. Apakah betul Kick Andy memberi pengaruh sebesar itu pada penonton? Kadang saya tidak habis percaya. Saya lalu teringat pada Herry Candi, salah seorang penonton Kick Andy di Makassar. Waktu membaca komentar Herry di website ini -- jujur saja -- saya nyaris tidak percaya.

Bagaimana mungkin ada orang yang begitu bersemangatnya sehingga rela menempuh jarak 40 kilometer dengan sepeda motor setiap Kamis malam hanya untuk menonton Kick Andy. Dalam komentarnya di website, Herry mengaku di tempat dia bekerja, di Kabupaten Barru, kotamadya Pare-Pare, Sulawesi Selatan, sinyal televisi tidak bisa ditangkap. Karena itu, untuk menonton Kick Andy di Metro TV, dia terpaksa harus ke kota terdekat yang jaraknya puluhan kilometer.

Di mana dia menonton? “Di warung-warung yang kebetulan punya televisi,” ujar Herry. Karena di wilayah Indonesia bagian tengah (WITA) Kick Andy dimulai jam 11 malam, maka Herry baru selesai menonton jam 12 tengah malam. Untuk langsung pulang, selain terlalu malam, tubuhnya juga sudah terlalu lelah. Maka Herry terpaksa menumpang tidur di pompa bensin di tepi jalan yang dilaluinya.

Kisah Herry terkesan berlebihan dan sulit dipercaya. Tetapi setelah tim Kick Andy berhasil menemuinya, saya baru bisa memahami mengapa Herry rela bersepeda motor puluhan kilometer dan tidur di pompa bensin di tengah dinginnya udara malam demi menonton Kick Andy. Herry mengaku sebelum menonton Kick Andy, dia merasa hidupnya tidak berguna. Baik untuk dirinya sendiri apalagi bagi orang lain.

Sampai suatu hari, tanpa di sengaja, dia menyaksikan Kick Andy di Metro TV. Waktu itu topiknya Suster Apung. Ini kisah tentang seorang perawat yang bekerja tanpa pamrih. Dengan keterbatasan pengetahuan dan peralatan, Suster Rabiah, sang perawat, berkeliling dari pulau ke pulau di kepulauan terpencil di Lautan Flores, Sulawesi Selatan. Jauh dari riuh rendah sorotan mata dan tepuk tangan, Suster Apung mendedikasikan 28 tahun hidupnya untuk membantu penduduk di kepulauan itu yang selama ini hidup dalam keterbatasan.

Melihat kisah itu, Herry merasa terpukul. “Jika Suster Apung dengan segala keterbatasannya bisa memberikan arti bagi warga di kepulauan itu, mengapa saya tidak bisa melakukan hal yang sama?” Pikirnya. Herry merasa malu pada dirinya yang selama ini hanya mengeluh dan merasa tidak berguna.

Sejak itu dia lalu tergerak untuk membantu para petani tambak udang di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, yang selama ini bertambak dengan cara tradisional. Dengan menggunakan pengetahuan yang diperolehnya dari tempat kerjanya, sebuah perusahaan pembibitan udang, Herry lalu mengajari para petani tambak cara beternak udang yang lebih baik. Hasilnya? Jika dulu para petani tambak hanya bisa memperoleh Rp 300 ribu, berkat pengetahuan yang diajarkan Herry mereka kini bisa mendapatkan Rp 15 juta sekali panen. “Para petani sampai bingung mau diapakan uang sebanyak itu,” ujar Herry.

Kisah Herry di website menggerakan tim Kick Andy untuk mencari Herry dan mengundangnya ke Jakarta sebagai tamu kehormatan di HUT Kick Andy yang ke-2. Pada saat membaca surat undangan dari Kick Andy itu, Herry tak kuasa membendung airmatanya. ‘’Tuhan menjawab doa saya. Sudah lama saya ingin bertemu Andy Noya. Setiap habis nonton Kick Andy di televisi, saya selalu mengetuk-ngetuk kaca tv sambil berbisik, kapan ya saya bisa bertemu Pak Kick Andy,” ujar Herry polos.

Sebegitu besarnyakah pengaruh Kick Andy? Sekali lagi saya sering bertanya dalam hati. Karena itu, mata saya sering berkaca-kaca ketika membaca berbagai komentar di website.

Ada murid yang mengatakan setelah menonton Kick Andy menjadi semangat belajar. Ada yang mengaku secara fisik tidak sempurna dan putus asa tetapi setelah menyaksikan Kick Andy berbalik bersyukur karena masih banyak orang lain yang lebih menderita dibandingkan dia. Kali lain ada juga komentar yang mengatakan hubungannya dengan ayah dan ibunya menjadi hangat kembali setelah menyaksikan episode Kiyati, seorang anak asal Salatiga, Jawa Tengah, yang dipungut anak oleh keluarga Jerman ketika masih berusia empat bulan.

Setelah dewasa Kiyati kembali ke Indonesia untuk mencari ibu kandungnya. Di Kick Andy anak dan ibu dipertemukan. Penonton yang memberi komentar mengatakan pada saat itu dia baru menyadari betapa beruntungnya dia karena selama ini ibu dan ayahnya selalu berada di dekatnya dan memberikan kasih sayang yang berlimpah, yang selama ini kurang dihargainya.

Ada pula yang mengaku selama ini memendam dendam pada seseorang, tapi setelah menonton Kick Andy dia memaafkan orang yang dibencinya. Begitu pula seorang guru yang mengaku batal bunuh diri setelah menonton Kick Andy. Semua ini membuat saya – dan tim Kick Andy – merasa usaha dan kerja keras kami tidak sia-sia.

Semua yang kami sajikan ternyata memberi arti bagi Anda. Arti tentang pentingnya bersyukur. Bersyukur tentang apa pun yang diberikan Tuhan kepada kita. Kita sering tidak tahu apa rencana Tuhan bagi kehidupan kita. Hanya satu hal yang harus kita yakini, rencana Tuhan selalu indah. Tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

source by K!ck Andy

Pahlawan Sejati

Jalan menuju desa itu berupa tanah yang dikeraskan. Kepulan debu berwarna merah menebar di udara ketika kendaraan kami melewati perkebunan hutan eucalyptus, di Kampung Sigoring-goring, di kawasan Padang Lawas, Tapanuli, Sumatera Utara. Hampir dua jam perjalanan dari airport kecil Aek Godang, sebelum akhirnya saya berjumpa dengan Raja Dima Siregar.

Sosoknya sangat sederhana. Bahkan terlalu sederhana sehingga terkesan naif. Saya hampir tidak percaya dari sosok inilah lahir kepedulian yang luar biasa. Padahal sehari-hari Raja Dima hanya seorang petani lugu di sebuah kampung kecil di tengah hutan. Kalau saja waktu itu Kick Andy tidak mengangkat kisah Raja Dima, saya tidak akan percaya di tengah hutan ini ada sebuah perkampungan miskin, tempat seorang petani hebat bermukim.

Raja Dima memang hanya petani. Sewaktu melihat anak-anak di kampungnya telantar karena tidak ada sekolah, hatinya tergerak. Berbekal tekad dan dorongan yang luar biasa, lelaki berusia sekitar 40 tahun itu lalu membangun sebuah Sekolah Dasar di sana. Secara fisik, bangunan sekolah yang saya kunjungi sungguh menyesakkan dada. Sekolah itu hanya berdindingkan papan, yang sebagian sudah berlubang-lubang. Atapnya dari seng. Ada dua ruang kelas yang disekat papan berlubang.

Bangunan sekolah sangat sederhana itu didirikan Raja Dima di atas sepetak tanah kosong. Pada mulanya, ketika bangunan sekolah sudah berdiri, muncul persoalan. Siapa yang akan mengajar? Tak seorang pun guru yang akan tertarik dengan kondisi sekolah seperti itu. Belum lagi lokasinya yang terpencil. Tapi dengan modal keprihatinan dan tekad yang kuat, Raja Dima memberanikan diri mengajar sendiri anak-anak Kampung Sigoring-goring. Dia lalu mengajar sebisanya.

Saya sungguh terharu. Ketika tiba di sana, sambutan yang diberikan sungguh tak terduga. Perangkat desa, para wanita, ibu-ibu, kakek-nenek, dan seluruh anak sekolah berseragam pramuka menyambut berderet di depan sekolah. Sebagian dari anak-anak itu bertelanjang kaki. Tetabuan musik tor-tor dengan suara suling yang melengking menjadi latar belakang tari-tarian yang dimainkan sejumlah lelaki dan perempuan tua. Kalungan bunga serta ulos yang dilingkarkan ke pundak menandai ucapan selamat datang.

Sebenarnya, sewaktu mendengar kabar warga Desa Sigoring-goring akan mengadakan “upacara” penyambutan, saya keberatan. Saya hanya ingin ke sana untuk memberi bantuan sekaligus melihat sendiri sekolah yang dibangun Raja Dima yang selama ini hanya saya lihat melalui rekaman video di Kick Andy. Tetapi saya akhirnya mengalah ketika dijelaskan “upacara” tersebut merupakan penghormatan dan penghargaan. Katanya “upacara” tersebut merupakan kebanggaan bagi masyarakat desa. Apa boleh buat.

Raja Dima hanya sebuah simbol. Simbol perlawanan terhadap “nasib”. Simbol perlawanan terhadap keterbatasan. Ketika banyak orang menyerah pada keadaan dan kondisi yang serba terbatas, Raja Dima bangkit melawan. Dengan segala keterbatasan yang ada di desanya, Raja Dima membangun sebuah harapan. Harapan akan pendidikan bagi generasi penerus di desa itu.

Saya dan tim Kick Andy Foundation ke Desa Sigoring-goring membawa sumbangan buku dan dana bagi pembangunan perpustakaan. Ketika diminta memberi sambutan, saya tiba-tiba merasa kecil. Apa yang saya perbuat bersama teman-teman di Kick Andy Foundation, serasa tidak ada artinya dibandingkan semangat dan dedikasi yang diperlihatkan Raja Dima.

Apa lagi pada kunjungan itu saya dibuat terkesima karena menemukan Raja Dima, Raja Dima lain yang juga mengabdikan hidup mereka untuk mengentaskan warga desa dari kebodohan. Saya berkenalan dengan Pak guru Ridwan Dalimunte dan istrinya Nurlela Siregar yang juga merintis sekolah ala “laskar pelangi” di Dusun Aek Pastak Kec. Barumun Tengah yang bertetangga dengan Desa Sigoring-goring.

Dalimunte dan Nurlela, seperti halnya Raja Dima, mulai merintis sekolah “swakarsa” dengan jumlah murid pada awalnya cuma sepuluh. Sekarang sudah 60 murid belajar di sekolah yang dibangun Dalimunte itu. Sementara anak-anak yang belajar di sekolah Raja Dima kini mencapai 53 murid.

Saya bersyukur bisa sampai ke sebuah Desa nun jauh di pelosok Tapanuli dan bertemu dengan orang-orang hebat seperti Raja Dima dan Dalimunte serta istrinya. Di mata saya merekalah pahlawan-pahlawan sejati. Mereka tidak menunggu uluran tangan pemerintah untuk bergerak. Raja Dima dan Dalimunte berkarya tanpa menepuk dada. Mereka bekerja jauh dari hiruk pikuk slogan-slogan, seperti yang kerap digembar-gemborkan politisi peserta pilkada atau calon anggota legislatif. Raja Dima dan Dalimunte berkarya dalam diam di kesunyian hutan.

Ada perasaan sedih ketika kendaraan yang saya tumpangi menjauh dari Desa Sigoring-goring. Saya harus kembali ke Jakarta. Tetapi hati saya tertambat di sana. Apalagi ketika menyalami satu demi satu murid-murid Raja Dima. Anak-anak kampung yang lugu. Anak-anak negeri yang juga berhak atas pendidikan dan sukses.

Nun di pedalaman Tapanuli ada Raja Dima dan Dalimunte. Orang-orang hebat yang berkarya dalam kesunyian. Jauh dari hiruk pikuk. Jauh dari penghargaan. Mereka berbuat tanpa pamrih. Di mata saya, merekalah pahlawan-pahlawan sejati.

source by K!ck Andy

Cara Tuhan

Malam itu saya gelisah. Tidak bisa tidur. Pikiran saya bekerja ekstra keras. Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Sampai jam tiga dini hari otak saya tetap tidak mampu memecahkan masalah yang saya hadapi.

Tadi sore saya mendapat kabar dari rumah sakit tempat kakak saya berobat. Menurut dokter, jalan terbaik untuk menghambat penyebaran kanker payudara yang menyerang kakak saya adalah dengan memotong kedua payudaranya. Untuk itu, selain dibutuhkan persetujuan saya, juga dibutuhkan sejumlah biaya untuk proses operasi tersebut.

Soal persetujuan, relatif mudah. Sejak awal saya sudah menyiapkan mental saya menghadapi kondisi terburuk itu. Sejak awal dokter sudah menjelaskan tentang risiko kehilangan payudara tersebut. Risiko tersebut sudah saya pahami. Kakak saya juga sudah mempersiapkan diri menghadapi kondisi terburuk itu.

Namun yang membuat saya tidak bisa tidur semalaman adalah soal biaya. Jumlahnya sangat besar untuk ukuran saya waktu itu. Gaji saya sebagai redaktur suratkabar tidak akan mampu menutupi biaya sebesar itu. Sebab jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan pendapatan saya. Sementara saya harus menghidupi keluarga dengan tiga anak.

Sudah beberapa tahun ini kakak saya hidup tanpa suami. Dia harus berjuang membesarkan kelima anaknya seorang diri. Dengan segala kemampuan yang terbatas, saya berusaha membantu agar kakak dapat bertahan menghadapi kehidupan yang berat. Selain sejumlah uang, saya juga mendukungnya secara moril. Dalam kehidupan sehari-hari, saya berperan sebagai pengganti ayah dari anak-anak kakak saya.

Dalam situasi seperti itu kakak saya divonis menderita kanker stadium empat. Saya baru menyadari selama ini kakak saya mencoba menyembunyikan penyakit tersebut. Mungkin juga dia berusaha melawan ketakutannya dengan mengabaikan gejala-gejala kanker yang sudah dirasakannya selama ini. Kalau memikirkan hal tersebut, saya sering menyesalinya. Seandainya kakak saya lebih jujur dan berani mengungkapkan kecurigaannya pada tanda-tanda awal kanker payudara, keadaannya mungkin menjadi lain.

Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Pada saat saya akhirnya memaksa dia memeriksakan diri ke dokter, kanker ganas di payudaranya sudah pada kondisi tidak tertolong lagi. Saya menyesali tindakan kakak saya yang “menyembunyikan” penyakitnya itu dari saya, tetapi belakangan -- setelah kakak saya tiada -- saya bisa memaklumi keputusannya. Saya bisa memahami mengapa kakak saya menghindar dari pemeriksaan dokter. Selain dia sendiri tidak siap menghadapi kenyataan, kakak saya juga tidak ingin menyusahkan saya yang selama ini sudah banyak membantunya.

Namun ketika keadaan yang terbutruk terjadi, saya toh harus siap menghadapinya. Salah satu yang harus saya pikirkan adalah mencari uang dalam jumlah yang disebutkan dokter untuk biaya operasi. Otak saya benar-benar buntu. Sampai jam tiga pagi saya tidak juga menemukan jalan keluar. Dari mana mendapatkan uang sebanyak itu?

Kadang, dalam keputus-asaan, terngiang-ngiang ucapan kakak saya pada saat dokter menganjurkan operasi. “Sudahlah, tidak usah dioperasi. Toh tidak ada jaminan saya akan terus hidup,” ujarnya. Tetapi, di balik ucapan itu, saya tahu kakak saya lebih merisaukan beban biaya yang harus saya pikul. Dia tahu saya tidak akan mampu menanggung biaya sebesar itu.

Pagi dini hari itu, ketika saya tak kunjung mampu menemukan jalan keluar, saya lalu berlutut dan berdoa. Di tengah kesunyian pagi, saya mendengar begitu jelas doa yang saya panjatkan. “Tuhan, sebagai manusia, akal pikiranku sudah tidak mampu memecahkan masalah ini. Karena itu, pada pagi hari ini, aku berserah dan memohon Kepada-Mu. Kiranya Tuhan, Engkau membuka jalan agar saya bisa menemukan jalan keluar dari persoalan ini.” Setelah itu saya terlelap dalam kelelahan fisik dan mental.

Pagi hari, dari sejak bangun, mandi, sarapan, sampai perjalanan menuju kantor otak saya kembali bekerja. Mencari pemecahan soal biaya operasi. Dari mana saya mendapatkan uang? Adakah Tuhan mendengarkan doa saya? Pikiran dan hati saya bercabang. Di satu sisi saya sudah berserah dan yakin Tuhan akan membuka jalan, namun di lain sisi rupanya iman saya tidak cukup kuat sehingga masih saja gundah.

Di tengah situasi seperti itu, handphone saya berdering. Di ujung telepon terdengar suara sahabat saya yang bekerja di sebuah perusahaan public relations. Dengan suara memohon dia meminta kesediaan saya menjadi pembicara dalam sebuah workshop di sebuah bank pemerintah. Dia mengatakan terpaksa menelepon saya karena “keadaan darurat”. Pembicara yang seharusnya tampil besok, mendadak berhalangan. Dia memohon saya dapat menggantikannya.

Karena hari Sabtu saya libur, saya menyanggupi permintaan sahabat saya itu. Singkat kata, semua berjalan lancar. Acara worskshop itu sukses. Sahabat saya tak henti-henti mengucapkan terima kasih. Apalagi, katanya, para peserta puas. Bahkan pihak bank meminta agar saya bisa menjadi pembicara lagi untuk acara-acara mereka yang lain.

Sebelum meninggalkan tempat workshop, teman saya memberi saya amplop berisi honor sebagai pembicara. Sungguh tak terpikirkan sebelumnya soal honor ini. Saya betul-betul hanya berniat menyelamatkan sahabat saya itu. Tapi sahabat saya memohon agar saya mau menerimanya.

Di tengah perjalanan pulang hati saya masih tetap risau. Rasanya tidak enak menerima honor dari sahabat sendiri untuk pertolongan yang menurut saya sudah seharusnya saya lakukan sebagai sahabat. Tapi akhirnya saya berdamai dengan hati saya dan mencoba memahami jalan pikiran sahabat saya itu.

Malam hari baru saya berani membuka amplop tersebut. Betapa terkejutnya saya melihat angka rupiah yang tercantum di selembar cek di dalam amplop itu. Jumlahnya sama persis dengan biaya operasi kakak saya! Tidak kurang dan tidak lebih satu sen pun. Sama persis!

Mata saya berkaca-kaca. Tuhan, Engkau memang luar biasa. Engkau Maha Besar. Dengan cara-Mu Engkau menyelesaikan persoalanku. Bahkan dengan cara yang tidak terduga sekalipun. Cara yang sungguh ajaib.

Esoknya cek tersebut saya serahkan langsung ke rumah sakit. Setelah operasi, saya ceritakan kejadian tersebut kepada kakak saya. Dia hanya bisa menangis dan memuji kebesaran Tuhan.

Tidak cukup sampai di situ. Tuhan rupanya masih ingin menunjukkan kembali kebesaran-Nya. Tanpa sepengetahuan saya, Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia tempat saya bekerja, suatu malam datang menengok kakak saya di rumah sakit. Padahal selama ini saya tidak pernah bercerita soal kakak saya.

Saya baru tahu kehadiran Surya Paloh dari cerita kakak saya esok harinya. Dalam kunjungannya ke rumah sakit malam itu, Surya Paloh juga memutuskan semua biaya perawatan kakak saya, berapa pun dan sampai kapan pun, akan dia tanggung. Tuhan Maha Besar.

source by K!ck Andy

2 Desember 2010

Tips for English Teachers

Here are some tips to help you on your teaching experience.

1. Dress right. Jeans, sneakers, and just-out-of-bed hair may be okay for teachers in the U.S., but in many parts of the world, a neat appearance counts far more than credentials. In Korea dark clothes lend an air of authority. Red is to be avoided at all costs. In Morocco female teachers don’t wear pants, sleeveless blouses, or short skirts.

2. Behave appropriately. When it asked 250 students at the Sichuan Institute of Foreign Languages in China what they liked and disliked about native speaker English teachers, the students’ main gripe was the informality of foreign teachers, who often seem to undermine their own authority by acting in undignified ways. In the U.S. teachers go on a first-name basis with students, sit on their desks, sip coffee, and even bounce off the walls without causing student discomfort or losing prestige. But these behaviors don’t export well.

3. Don’t worry if students seem unresponsive at first. Americans are used to participatory classrooms with plenty of teacher-student dialogue. Elsewhere, students are often trained to be silent, good listeners, and memorizers. It’s disconcerting to stand in front of a sea of blank faces, but expecting it reduces the shock. Introduce new concepts, such as discussion and role-play gradually. You’ll be surprised at how students will come to embrace the change.

4. Choose topics carefully. There are still many countries in the world where people are hesitant to voice opinions because of a fear of reprisal. If you’re conducting a classroom debate, remember that there’s a distaste for Western-style argumentation in Middle-Eastern societies, and in Japan it’s offensive for an individual to urge others to accept his opinion.
Certain topics may be taboo for cultural reasons: Most Americans don’t want to discuss their salaries or religious beliefs; Japanese may be disinclined to talk about their inner feelings; the French think questions about their family life are rude.

5. Don’t ask, “Do you understand?” In China and Japan, students will nod yes, even if they’re totally lost, in an attempt to save face for the teacher. Even in a country as far west as Turkey, yes often means no.

6. Avoid singling students out. Our society fosters a competitive individualism which is clearly manifested in our classrooms. American students are not shy about displaying their knowledge. In classrooms outside the U.S., however, showing solidarity with classmates and conforming to the status quo is often more important than looking good for the teacher. In Turkey and Montenegro students told me they disliked volunteering answers too often because it made them look like show-offs and attracted the evil eye of envy. If you want to play a game, make the competition among groups rather than among individuals. If you need to discipline a student, do so in private.

7. Be aware of cross-cultural communication styles. French students appreciate wit. Venezuelan students like boisterous rapid-fire exchanges. In Japan, where debate is not as valued as in the U.S., students appreciate long pauses in discussions and silent “think time” after you ask a question. “Hollow drums make the most noise” goes a Japanese proverb, and Japanese students are uncomfortable blurting out the first thing that comes to mind. American teachers, who are uncomfortable with silence, tend to anticipate the student’s words or repeat their original question—both irritating interruptions for the Japanese student.

8. Present a rationale for what you do in class. Your pedagogy is going to be very different from what students are used to. They’ll conform much more eagerly to new classroom content and procedures if they understand the benefits.

9. Expect the best of your students. They’ll be serious about learning English because their economic advancement often depends upon mastering it.

10. Relax and enjoy yourself. Happiness in the classroom is contagious.

source by
http://english-trainer.blogspot.com/2010/06/tips-for-teachers-of-english.html